Kamis, 12 April 2012

Tulisan 6

Dua Keinginan
oleh Khalil Gibran

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.

Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman -- berhati-hati tidak menyentuh apapun -- sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, "Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!"
Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku."

Dan si kaya berkuasa itu bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan."
Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian."

Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.

Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku."
"Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih."

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.
Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang -- ke dunia -- dan dalam bisikan ia berkata, "Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu."

(dari "Kelopak-Kelopak Jiwa" - Gibran Khalil Gibran)

Jumat, 06 April 2012

Tulisan 5


Kumpulan Artikel Mengenai Perjuangan Aceh

TRAGEDI BANTAQIYAH: LADANG PEMBANTAIAN BARU DI ACEH
Laporan Mukhtaruddin Yakub(Wartawan Buletin NANGGROE, WALHI Aceh)

Pembantaian Itu Saudah (21) tak mampu buka suara. Mulutnya kaku dan gemetaranmenatap gundukan tanah dari salah satu kuburan massal tanpanisan yang dibongkar Kamis (29/7) lalu. Jenasah-jenasah di duakuburan massal itu digali untuk dikuburkan kembali secaraislami. Ia menanti dengan harap-harap cemas kalau suami, ayahserta iparnya berada di sana. Air bening tak kuasa dibendungdan terus membasahi kelopak matanya. Ait matanya kian derasmembaur dengan guyuran hujan. Putri bungsunya, Zubaidah yanghari itu datang bersama saudara tertuanya, Karmila terusmerengek minta pulang untuk bertemu ayah tercinta. Zubaidah, (1,5) menangis minta bertemu ayahnya. Putri ketigaSaudah ini tak henti-hentinya menanyakan ke mana sang ayahpergi. Bocah seusia Zubaidah tak tahu apa yang sedang menimpaorang tuanya. Ia meronta dalam gendongan ibunya seraya terusmenuntut bertemu ayahnya. Sementara Karmila (6,5) yang barusaja didaftarkan di sebuah SD kawasan itu terpaku tanpa mampumembaca suasana. Karmila mungkin sangat terpukul, karenaseminggu lalu ia baru saja dipapah ayahnya masuk sekolah.Setiap berangkat dan pulang sekolah, Karmila senantiasadijemput sang ayah.
Sekarang entah siapa yang akanmenemaninya.

 Sejak peristiwa itu, Karmila bukan saja tanpateman, tapi juga kehilangan kesempatan bersekolah. Ia belumdiizinkan ibunya sekolah sebelum hari kemalangan berlalu. Zubaidah dan Karmila adalah dua dari tiga bersaudara pasanganSaudah-Samsuar. Kedua anak ini tidak saja kehilangan ayah,tapi juga ditinggal pergi kakek dan paman tercinta. BersamaSamsuar (27), Abdul Manaf (45), dan M. Ali (25), jadi korban pembantaian Tragedi Bantaqiyah. Sementara korban lain yang tewas M. Harun (18), Zubir (25), Usman bin Bantaqiyah (29), M.Din (45), Tarmizi (32), M. Husen (42), Samin (28), Jamaluddin(29), Suhaimi (35), M Amin M (32), Jamalulhadi (27). Diantara 32 korban, 17 orang warga Blang Beurandeh. Sisanyamasih penduduk pemukiman Beutong Ateuh. Keluarga dekat Bantaqiyah bersama masyarakat menata kembalikuburan massal itu. Peristiwa ini mengingatkan kembalikebrutalan TNI pada masa pemberlakuan DOM. Ketika itumasyarakat mendapatkan mayat-mayat ditindih begitu saja dalambeberapa liang yang sangat sempit. Bantaqiyah dikubur bersamaanak dan 23 korban lainnya yang ditanam dalam sebuah liangpersis di belakang rumahnya. Sisanya 7 mayat ditanam di kakibukit sekitar 50 meter dari bangunan utama dayah Bantaqiyah. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menggali kuburan massalpertama. Para penggali harus hati-hati, karena posisi mayattidak beraturan dan kedalamannya hanya 50 cm. Sosok mayat itusebagian besar sudah mengelupas serta mengeluarkan bau taksedap. Rencana mengangkat mayat-mayat itu diurungkan, karenakondisi sudah sangat mustahil dilaksanakan.

 Kedua kuburan massal yang berada di belakang deretan bangunan darurat dayahTgk Bantaqiyah hanya diberi siraman air ritual sekaligusditutup dengan kaian kafan sebagai simbol tajhiz (memandikan,menga- fani, mensalatkan, dan menguburkan). Semula, dokter Puskesmas Babussalam merencanakan melakukanotopsi dengan seizin keluarga korban. Namun rencana otopsiakhirnya dibatalkan atas permintaan keluarga pula. "Untuk apalagi kita otopsi. Kami sudah rela, biarlah arwah merekaistirahat dengan tenang," pinta Jamaluddin, Kepala Desa BlangBeurandeh yang juga kehilangan seorang putranya.
Selain itu masyarakat juga menemukan 20 sosok mayat berserakandi jurang-jurang sekitar kilometer 7 lintas arah Takengon,Aceh Tengah. Namun masyarakat setempat hanya bisa menguburkan10 dari 20 korban. Sisanya masih berada di jurang. Karenakondisinbya sudah sangat membusuk, masyarakat tak mampumelakukan penguburan. Kesepuluh mayat itu masih berserakan dilintas Takengon-Beutong Ateuh. Sementara itu 4 warga Blang Beurandeh dan 1 warga Blang Puukhingga saat ini belum ditemukan. Mereka adalah Tgk M. Din, 41,M Janata, 28, M. Ali B, (35) Abdul Wahid (26) dan Saidi (38). Misteri antara kematian Tgk Bantaqiyah, ganja dan GAM belumterkuak juga. Tuduhan aparat keamanan terhadap suaminyamenanam ganja sama sekali tak beralasan. Menurut isterikeduanya Aman Farisah, 32, suaminya baru kembali ke Beutong28 Mei 1999 lalu. Sedianya ayah 10 anak ini tak ingin lagimenyeleng- garakan pengajian. Namun atas permintaan masyarakatsetempat, Tgk Banta akhirnya bersedia juga mengajar kembali warga setempat.

Setiap Jumat, penduduk setempat belajar AlQuran dan kitab di sebuah balai utama hingga pecahnyaperistiwa berdarah itu. Menurut Aman Farizah, kira-kira pukul 11.00 siang ratusanpersonil TNI datang secara tiba-tiba seraya berteriak memintapeserta pengajian berkumpul. Di sela perintah itu, aparatmelempari rumah penduduk dengan batu dan kayu sehingga membuatmereka berlarian keluar. Peserta pengajian pun turun menurutiperintah petugas. Aparat berteriak menanyakan Bantaqiyahhingga pimpinan dayah itu keluar dari rumahnya. Antara aparat dan Bantaqiyah sempat terjadi dialog, namun takada yang tahu apa yang dibicarakan. Sementara pasukan lainmelepaskan tembakan membabi buta tanpa memberi aba-aba.Bantaqiyah berteriak menyuruh warga tiarap. Rentetan pelurumemecahkan keheningan desa. Korban bergelimpangan, darahmuncrat dari tubuh korban. Satu-persatu mereka rubuh diterjangpeluru tajam jahanam. Mereka tewas bersimbah darah di dalampekarangan pesantren Bantaqiyah. Beberapa saksi mata menuturkan, penembak Bantaqiyah bukanpasukan pembantai 51 warga lain. Ia hanya sempat dikurungpasukan dari Aceh Tengah itu, namun ada tembakan dari arahlain yang berhasil menewaskan Bantaqiyah. "Saya sangatterpukul dengan Tragedi Bantaqiyah," ujar Camat Beutong, Drs.Teuku Bantasyam Puteh. Masyarakat memungut sosok mayat yang sudah tak utuh lagi padaSenin dan Selasa berikutnya atau sehari setelah pembantaianini terbongkar. Korban seluruhnya rakyat sipil tak berdosa.Tgk Bantaqiyah yang menjadi incaran mereka turut menjadikorban bersama jemaahnya lainnnya. Bantaqiyah tewas setelahtembakan ketiga. Sebelumnya, Tgk Banta -begitu panggilanakrabnya- sempat dihantam dengan peluru jenis PSD 83 tetapitak mempan. Akhirnya ia dihantam dengan senjata anti personil. Deretan daftar kuburan massal di Aceh bertambah panjang.Setelah pembantaian pada masa DOM , Simpang KKA, kini lembahBeutong Ateuh, 340 km barat Banda Aceh jadi cerita.

Pemukiman Itu Pemukiman Beutong Atueh yang dihuni kurang lebih 800 kepalakeluarga itu terletak persis di antara himpitan pegununganBukit Barisan. Daerahnya subur, cuma sayang sangat terisolirdan terbelakang. Pekerjaan mereka selain bertani, mencari kayubakar di hutan. Pemukiman yang dibelah sungai penuh bebatuanitu tercemar darah sudah. Tragedi pada hari Jumat (23/7) lalutelah meremukkan jiwa rakyat di sana. Puluhan perempuankehilangan suami, tak kurang 25 orang yatim kehilangan ayah,dan puluhan ayah kehilangan anak. Pembantaian ini baru terungkap Minggu(26/7) setelah dilaporkan salah seorang wargaBeutong yang lolos ke kota kecamatan. Beutong memang kerap jadi berita. Setelah kasus Tgk Bantaqiyahdengan jubah putihnya akhir 1987, giliran kebun ganja heboh disana. Nah, setelah Bantaqiyah dibebaskan, lagi-lagi Beutongmenggores kisah. Apakah karena Bantaqiyah? Tidak juga. Yangpasti lembah itu telah tertumpahi darah putera-putera pemiliksah bumi Aceh. Menurut warga setempat, Tgk Banta bukan mafia ganja yangdituduhkan ABRI selama ini. Kalangan masyarakat menyebutBantaqiyah seorang guru mengaji di Blang Beurandeh, tempat iamendirikan dayah (tempat kegiatan keagamaan). Di atas tanahseluas 3,000 meter, Tgk Banta mendirikan sebuah masjidsederhana. 

Di samping masjid ini dibangun sebuah balai besartempat pengajian berlangsung. Bantaqiyah bersifat terbuka. Ia menerima siapa pun yang inginmenuntut ilmu. Para tamu berdatangan dari hampir seluruh Aceh.Mereka hanya beberapa hari menuntut ilmu yang kemudian kembalike tempat asal masing-masing. Bantaqiyah menyelenggarakan tradisi puasa 7, 14, 40 dan 44hari sebagai persyaratan menuntut ilmunya. Berbagai lapisanmasyarakat datang menimba ilmu dari Bantaqiyah. Bahkan menurutkalangan dekat Bantaqiyah, salah seorang perwira Kopassuspernah berlajar ilmu dari Bantaqiyah. Namun tidak selesaikarena keburu dipulangkan ke markasnya. Kasus Jubah Putih sempat menghebohkan Aceh pada tahun 1987lalu. Saat itu Bantaqiyah nyaris ditangkap karena dianggapmenyebarkan aliran sesat. Namun kegiatan pengajian berlangsungterus. Hanya saja jubah putih tak lagi memasuki kota. Padaakhir 1993, Bantaqiyah ditangkap dengan dalih memiliki kebunganja dan memperalat muridnya menanam ganja. Bantaqiyahdituduh memasok ganja untuk membantu perjuangan GPK Aceh.Bantaqiyah dijebloskan ke penjara hingga akhirnya divonis 20tahun lewat UU Anti Subversi. Kompleks dayah Bantaqiyah diapit perbukitan dan aliran sungaijernih. Ia mendiami kompleks itu bersama dua isteri dan satumenantunya. Istri pertama Nursiah, dikawini sejak 30 tahunlalu. 

            Dari isterinya ini Bantaqiyah dikarunia 8 anak. Isterikeduanya Aman Farisah, berasal dari Bireun, Aceh Utara. Dariisteri kedua, Bantaqiyah dianugerahi dua putra yang masihbocah. Perkampungan Beutong Ateuh berada di lembah layaknya settingfilm The Killing Field yang tenar tenar itu. Daerah ini sulitdijangkau masyarakat asing. Selain tanpa transportasi reguler,untuk mencapai Beutong Atueh harus menempuh perjalanan panjang
selama 5-7 jam dari Meulaboh, ibukota Aceh Barat. Itu pun jikamenggunakan kenderaan jenis jeep seperti Toyota Land Cruiser,misalnya. Jalan menuju ke Beutong Ateuh baru saja dibuka pemerintahsekitar 10 tahun lalu. Medan lumpur, tanjakan tajam sertaancaman jurang serta bebatuan cadas acap membahayakanperjalanan. Masyarakat Beutong Ateuh jika ingin turun gunungharus menunggu jadwal angkutan spesial dua hari sekali denganongkos Rp 25.000 per orang untuk jarak tempuh 90 km. Suhu dingin dan balutan kabut kadang kala membuat penggunajalan berpikir seribu kali kalau ingin ke Beutong. Belum lagiancaman binatang buas yang kerap mengintai manusia. Tapi,anehnya bagi sebagian masyarakat Beutong, dalam suasana alamyang menyeramkan itu, mereka berani jalan kaki hingga tigakali 24 jam untuk mencapai kota kecamatan. Lintas jalan Beutong Ateuh-Meulaboh relatif lembab. Curahhujannya sangat tinggi. Sewaktu-waktu bisa turun hujan yangmengakibatkan terhambatnya perjalanan. Wartawan Nanggroebersama rombongan LSM dan pers dari Banda Aceh harus mandilumpur untuk menjinakkan medan dataran tinggi Bumi Teuku Umaritu. Puncak gunung Singgahmata dengan ketinggian 4,000 kaki daripermukaan laut terkenal dengan medannya yang berat.Singgahmata selalu dibungkus kabut dingin, jalan-jalan penuhbatu cadas serta jurang terjal. Di sisi lain perbukitan yangrawan longsor akibat perambahan hutan besar-besaran padawaktu-waktu sebelumnya. Pada posisi 70 km dari Meulaboh itu, kami terpaksa istirahatsambil menyantap makanan siang yang molor hingga pukul 16.00WIB. Dengan kondisi gemetaran menahan dingin, satu persatubulir nasi disantap guna menaikkan suhu badan. Kopi panas atauteh hangat sama sekali tak bisa dinikmati karena dikalahkanoleh suhu yang bisa anjlok hingga 10 derajat celsius. Beberapakali mobil yang kami tumpangi kandas, dan nyaris tak mampumelanjutkan perjalanan. Kehandalan mobil tak bisa diharapkanjika tak ada mobil lain yang bisa membantu. Tikungan tajamditemui hampir di sepanjang jalan. Setiap 500 meter terdapattikungan patah. Sepanjang perjanan, beberapa warga BeutongAteuh yang terlanjur mengungsi ke kota kecamatan ketakutan danlari ke hutan ketika mendengar deru mesin mobil. Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan tiba di BlangBeurandeh menjelang maghrib. Disambut isak tangis danratapan, rombongan dipandu menuju desa-desa sekitar. Seluruhpenduduk berebutan memberi kesaksian kepada tamu semalam itu. "Kamoe hantem lee tinggai di sino, eunteuh jitimbak lom,"
(Kami tak mau lagi tinggal di sini, nanti ditembak lagi)begitu lapor mereka sambil meraung. Selesai meninjau, rencana pembongkaran kuburan diurungkanhingga esok hari, Kamis (29/7). Rombongan disambut hangatdengan secangkir kopi gunung beserta makan malam secarameriah. Wajah-wajah sedih sedikit berubah mengguratkan harapanketika mereka tahu telah dikunjungi rombongan wartawan. Kamisempat was-was bila para pembantai datang lagi dan aksinya takakan diketahui hingga tiga hari. Kawasan Beutong hari itu telah dihuni aparat baru dari GeganaPolri, Kelapa Dua Jakarta. Mereka mengawasi dengan curigasetiap gerak-gerik masyarakat yang bisa-bisa ada kelompokGAMnya. Jumlah mereka tidak kurang dari satu kompi. Merekadidrop dari Jakarta melalui Aceh Tengah. "Sebenarnya kami ingin cepat-cepat pulang, buat apa lama-lama,kan kita rindu juga dengan keluarga," ujar salah seorangprajurit. Daerah ini kaya sumber daya alam. Masyarakat, di sampingberkebun, ada juga yang bertani meskipun tidak semeriah daerahpesisir. Masyarakat Beutong Ateuh umumnya buta huruf. Diantara ratusan KK hanya satu SD yang bercokol di kawasan ini.Itu pun proses belajar mengajarnya berlangsung seadanya. Namunkondisi ini tidak menyurutkan minat masyarakat setempatmenyekolahkan anaknya atau menuntut ilmu agama. Selama ini satu-satunya pesantren yang ada hanya dayahBantaqiyah. Dayah ini dibangun dengan dana sekitar Rp 105 jutadari anggaran Rp 400 juta sejak 1987 lalu. 
            
         Dua tahun kemudianBantaqiyah turun ke kota menuntut status Aceh sebagai daerahistimewa segera direalisasikan. Pasukan Jubah Putih -begitulah rombongannya dikenal - mengarak bendera merahberlambang bintang bulan ke ibukota Aceh Barat. Pesantren Bantaqiyah terletak di desa Blang Beurandeh. Desaini satu-satunya desa yang berada di seberang sungai. PendudukBlang Beurandeh lebih sedikit dibanding desa tetangganya.Namun, Blang Beurandeh telah melahirkan seorang politisisekaligus pengacara handal Abdullah Saleh, SH yang sekarangmenjabat Wakil Ketua DPW PPP Aceh. Bangunan rumah penduduk terlihat sangat bersahaja. Umumnyaberkonstruksi kayu tanpa sentuhan ketam. Luas rumahnya punhanya mampu menampung dua hingga tiga kamar berukuran 3x3meter. Sumber air terjun yang ada di kawasan Beutong Ateuhbisa dimanfaatkan untuk pembangkit litsrik tenaga air (PLTA).Peralatan itu sebenarnya sudah didatangkan, namun hingga saatini masyarakat hanya memiliki lampu petromaks. Itu pundinyalakan hingga pukul 21.00 WIB. Jangan heran bila kawasan

Ini masih gelap gulita. Lembah Beutong sebenarnya strategis bagi daerah latihanmiliter. Sumber air yang memadai dan jalur distribusi logistikbisa didrop dari udara. Sekitar pemukiman terdapat datarantinggi yang subur, mampu menghidupkan mahluk apa saja. Tanamanganja pun bisa hidup sendiri tanpa perlu disemai. "Ganjatumbuh sendiri di hutan, masa dituduh masyarakat yang tanam,seperti yang dituduhkan kepada Tgk Bantaqiyah," bela T. CutAli, tokoh masyarakat setempat. Danrem 012/TU Kolonel Syarifuddin Tippe belum bisa memberiketerangan lebih lanjut. Kepada Nanggroe, Tippe menyatakanlaporan yang ditulis di media massa berdasarkan laporan KasieIntel Korem 011/LW Letkol. Inf. Sujono. Pihaknya sudahmengirimkan tim melakukan recheck bersama Danramil Beutong.

Tulisan 4

     PERPU PERSAINGAN, MONOPOLI, DAN EKONOMI ISLAM

            Dalam ekonomi konvensional, praktek monopoli biasanya dikecam sebagai bentuk persaingan yang tidak sehat. Di Amerika Serikat, misalnya, sejak 1890 telah diberlakukan Sherman Act yang menyatakan setiap usaha monopoli atau usaha megontrol perdagangan adalah ilegal. Kemudian diikuti oleh Federal Trade Commission Act dan Claytion Act  (1914), Robinson-Patman Act (1936), Celler-Kefauver (1950), Hart-Scott-Rodino (1976), dan seterusnya.
            Meskipun demikian, toh AS memberikan pengecualian untuk beberapa jenis industri seperti pertanian dan perikanan, serikat buruh, asosiasi ekspor, radio dan televisi, transportsi, lembaga keuangan, dan basebal. Sikap mendua ini tidak aneh karena dalam teori konvensional juga dikenal monopolis, yang dibenarkan, misalnya natural monopoly seperti PLTA yang memerlukan investasi sangat besar . Karena itu sektor ini perlu dilindungi dari masuknya pesaing baru.
            Dalam ekonomi Isalm tidak dikenal sikap mendua itu. Siapapun boleh berbisnis tanpa peduli apakah dia satu-satunya penjual (monopoli) atau ada penjual lain.
            Jadi, monopoli sah-sah saja. Namun, siapa pun dia tidak boleh melakukan ikhtikar, yaitu mengambil keuntungan diatas keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi atau istilah ekonominya monopolistic rent. Inilah indahnya Islam : monopoli boleh, monopolistic rent tidak boleh. Bersumber dari Said bin Musayyab dari Ma'mar bin Abdullah Al-Adawi bahwa Rosulullah s.a.w. bersabda : " tidaklah orang yang melakukan ikhtikar itu kecuali ia berdosa " (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud)
            Berlainan dengan teori ekonomi konvensional, ketika monopoli menentukan harga pada saat biaya marginal sama dengan pendapatan marginal (MC=MR) ini berarti ia akan menjual lebih sedikit barang karena tidak ada penjual lain dengan harga yang lebih tinggi. Keuntungan berlebihan ini dapat digunakan untuk menghalangi pesaing baru, misalnya berkolusi dengan pemberi izin usaha atau pembuat aturan atau menciptakan halangan lain yang bersifat teknis bisnis. Bukan mustahil kalangan bisnis tertentu  yang menekan pemerintahan Amerika dalam menentukan ketujuh industri yang dikecualikan di AS itu.
            Dalam ekonomi Islam, orang yang memonopoli menentukan harga saat biaya marginal sama dengan pendapatan rata-rata (MC=AR) atau lebih lazim dikenal pada saat penawaran sama dengan permintaan. Lihatlah misalnya hadits dari Abu Huairah bahwa Rasulullah bersabda : " Barangsiapa yang melakukan ikhtikar untuk merusak harga pasar sehingga harga naik secara tajam maka ia berdosa " (HR Ibnu Majah, Ahamad).
            Lebih jauh lagi, karena Islam membolehkan siapapun memasuki bisnis apa saja yang halal, maka tidak dikenal adanya halangan masuk bagi pesaing baru. Dengan masuknya pesaing-pesaing baru, penawaran akan semakin banyak sehingga si penjual tidak lagi menentukaan harga pada saat biaya marginal sama dengan pendapatan rat-rata (ATC=AR). Artinya, ia akan tetap menjual selama biaya yang dikeluarkannya akan ditutup oleh pendapatannya.
            Jelaslah, Islam menghargai hak penjual dan pembeli untuk menentukan harga sekaligus melindingi hak keduanya atau istilah fikihnya " haqqal ghair muhafazdun 'alaihi syar'an ". Inilah yang kita harapkan dari perpu persaingan, hak seseorang untuk berbisnis dibuka lebar tanpa terlalu banyak campur tangan pemerintah sekaligus melindungi hak orang lain. Dengan demikian pemerintah berfungsi " tasarruf al-imam 'ala arra'iyah manutun bi al-maslaha " (selalu mengacu pada kemaslahatan orang banyak) tanpa harus bersikap mendua.

                 
                

Tulisan 3


BANK ISLAM DALAM PERKEMBANGAN PERBANKAN MODERN


            Bebicara tentang perekonomian, tentu tidak akan lepas dari masalah perbankan. Sejauh yang kita kenal, perbankan konvensional mendasarkan opersinya pada sistim bunga, yang identik dengan riba. Padahal, dalam Islam riba dilarang. Oleh karena itu perlu perbankan alternatif dalam perekonomian yang sesuai dengan syariat Islam.
            Bank-bank Islam modern mulai bermunculan pada dekade 1960-an. Meski begitu, aktifitas perbankan telah dimulai sejak zaman Rasulullah. Sebelum diutus menjadi Rasul, karena kejujurannya. Nabi Muhammad s.a.w. dikenal sebagai Al-Amin. Beliau dipercaya menyimpan segala deposit oleh orang banyak sehingga pada saat terakhir sebelum Rosul hijrah ke Madinah, Nabi melantik sayidina Ali r.a. untuk mengembalikan segala simpanan itu kepada yang punya.
            Seorang sahabat Zubair bin Al-Awwam, tidak mau menerima uang dari orang dalam bentuk deposit. Dia lebih suka menerimaya dalam bentuk pinjaman . Abdullah bin Zubair menceritakan, bila ada orang datang membawa uang untuk disimpan untuk ayahnya, maka ayahnya akan berkata bahwa uang itu adalah pinjaman, beliau mempunyai hak untuk memakainya atau menggunakannya. Oleh karena itu, Zubair berkewajiban mengembalikannya utuh. Aktifitas mudharabah dan musyarakah juga telah dikenal sejak dulu. Dalam aktifitas pengiriman uang misalnya, dikisahkan Ibnu Abbas mengirim uang ke Kufa atau kisah Abdullah Zubair yang kerap mengirim uang dari Mekah ke adiknya Misab bin Zubair di Irak. hal serupa juga terlihat dalam aktivitas penggunaan cek. Misalnya ketika sayidina Umar bin Khattab r.a. mengimpor sejumlah besar barang dari Mesir ke Madinah. Untuk mempercepat distribusi, Khalifah mengeluarkan cek untuk penduduk Madinah. Contoh lain adalah kisah Saif Dawalah Al-Hamadani, amir di Aleppo, yang menggunakan cek  untuk membayar minum di kedai Bani Khaqan tanpa mereka sadar bahwa dia seorang amir.
            Sejarah perkembangan bank Islam modern dimulai dari berdirinya Mit Ghamr Local Saving Bank di Mesir. Akibat situasi politik saat itu, bank ini diambil oleh National Bank of Egypt dan Central of Egypt pada pertengahan 1967 sehingga kemudian beroperasi atas dasar riba. Pada 1972, sistim bank tanpa riba diperkenalkan kembalidengan berdirinya Nasser Social Bank di Mesir.
            Pada awal 1970-an dibentuklah organisasi konferensi Islam (OKI) yang diprakasai oleh antara lain almarhaum raja Faisal dari Arab Saudi yang juga menyarankan dibentuknya Bank Pembangunan Islam (IDB) pada 1975 yang dianggap sebagai pendorong berdirinya bank-bank Islam lainnya. Kemudian bank Islam bertambah di manca negara dengan pesat. Pesatnya pertumbuhan bank-bank Islam telah memberikan inspirasi bagi bank-bank kovensional untuk meniru dan ikut menawarkan produk-produk bank Islam. Alasan bank-bank konvensional menawarkan produk bank Islam itu semata-mata alasan komersial karena melihat besarnya pasar umat Islam yang pertumbuhannya diperkirakan lebih dari 15% per tahun.
            Beberapa bank konvensional bahkan membuka " Islamic Windows " dengan menawarkan produk-produk bank Islam, antara lain di Malaysia, the Islamic Transactions di cabang-cabang the Bank of Egypt, the Islamic Servicea di cabang-cabang the National Comercial Bank Saudi Arabia.  Citybank bahkan mendirikan Citi Islamic Investment Bank pada 1996 di Bahrain yang merupakan anak perusahan Citicorp. Chase Manhattan Banak telah mengembangkan produk Chase Manhattan Leasing Liquidity Program (CML) untuk memenuhi kebutuhan investasi overnaight dan short term yang halal . Produk-produk investment banking yang islami mulai ditawarkan oleh fund manager konvensional : the Wellington Management Company AS, dan Kleinworth Benson Bank, Inggris.
            Perusahaan-perusahaan besar yang berminat menggunakan jasa bank Islam juga makin banyak. Xerox, General Motors, IBM, General Electric, dan chrisler adalah sebagian dari perusahaan blue-chip di Amerika yang semakin banyak menggunakan ijara (islamic lease finance) ; the United Bank of Kuwait pada 1994 lalu melaporkan pertumbuhan 75% untuk produk ijara di Amerika Serikat. Dari segi pengembangan teori bank Islam, Tidak kurang dari Harvard University mendirikan program khusus the Harvar Islamic Finance Information Program di bawah Harvard University Centre for Middle Eastern Studies, yang disponsori oleh the Islamic Investment Bankers (anak perusahaan Dar Al-Maal Al- islami Trust).
            Demikian selintas perkembangan Islam dalam kancah perbankan dunia. Yang kita harapkan adalah  sistim perbankan syariah ini terus memasyarakat dan berkembang.
                             

Tulisan 2


Kumpulan Artikel Mengenai Perjuangan


Kamis, 18 November 1999
Selamat Tinggal Tanah Rencong...

BURUH di Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar (32 km timur lautBanda Aceh) terlihat sibuk mengangkut barang-barang milikpenumpang KM Sangiang, hari Rabu (17/11). Keramaian penumpangyang akan berpergian siang itu tidak seperti hari-harisebelumnya. Barang-barang yang umumnya berupa televisi, kaset,kasur, bantal, ranjang, dan pakaian ditumpukkan di sepanjangdermaga sandar yang luasnya sekitar 400 meter persegi. Adayang diangkut dengan truk, angkutan umum, ada pula yang denganbecak barang. Ada yang dikemas dalam kardus dan peti, ada juga yang cumadibalut atau dibungkus goni plastik dan kain sarung.Barang-barang itu sebagian besar milik warga non-Aceh yangakan eksodus meninggalkan Tanah Rencong yang luasnya 57.365,57km persegi. Menurut Syahbandar Pelabuhan Malahayati, Masrul, lonjakanpenumpang sejak Senin (15/11) meningkat drastis. Meningkat karena banyaknya warga non-Aceh yang mulai eksodusmeninggalkan Aceh menuju daerah asalnya masing-masing. "Ini tidak seperti biasanya. Kami pun terkejut melihatbanyaknya warga yang naik ke KM Sangiang tujuan Belawan(Medan) ini. Sebab biasanya kami hanya membawa penumpang dibawah 100 orang. Tetapi, hari ini (Rabu, 17/11) mencapai600-an," kata Masrul yang ditemui Kompas di PelabuhanMalahayati. Menurut dia, keadaan ini akan berlangsung sampai Desembermendatang. Apalagi KM Sangiang berangkat dari PelabuhanMalahayati hanya tiap tanggal ganjil. Artinya, penumpang yangnaik pun terbatas.

*** SUASANA haru pun menyelimuti pelabuhan, mengiringi kepergianratusan warga non-Aceh yang ingin kembali pulang ke kampungnya.
masing-masing. Isak tangis disertai rangkulan dan peluk cium sebagai tanda perpisahan silih berganti terlihat di tanggapintu masuk KM Sangiang. Meski mereka baru 5-10 tahun lebih menetap di wilayah paling ujung barat Indonesia ini, tetapi terlihat mereka begitu akrabdan penuh rasa persaudaraan. Bukan hanya orang-orang tua sajayang turut melepas kepergian warga pendatang itu, melainkanjuga pemuda-pemudinya. Mereka turut membantu membawakanbarang-barang milik warga pendatang tersebut sampai ke dalamkapal. Dalam percakapannya pun, warga non-Aceh itu sudah menggunakan bahasa Aceh dengan lancar. Saking akrabnya, warga yang berpergian dilepas dengan iring-iringan mobil pribadi sampai angkutan umum. Malah, sebagian warga tak lupa membawakan kuetimpan (terbuat dari ketan bercampur santan, pisang dan inti,khas Aceh-Red) sebagai makanan ringan dalam perjalanan. Suasana kesedihan pun memuncak, tatkala terdengar pengumuman dari nakhoda kapal diiringi suara terompet agar semua penumpang KM Sangiang naik ke kapal. Sebagian warga yang berada di kapal pun menuju pinggir dan sisi kapal melambaikantangan, tanda perpisahan. Warga yang ditinggal pun menyambut lambaian tangan dengan wajah berkaca-kaca. Begitu terharunya, sebagian warga takmampu mengangkat wajahnya. Mereka merunduk sambil menyeka airmata dengan sapu tangan atau kerudung yang diselempangkan dileher. Para penumpang yang bertolak ke Pelabuhan Belawan itu, adayang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Medan,Tapanuli Selatan (Sumatera Utara), dan lainnya.

*** TUNIA (36), guru SMU Negeri 2 Banda Aceh, mengaku sedih meninggalkan tempat mengajarnya. Ia merasa sudah menyatu dancocok dengan kultur kehidupan masyarakat Aceh. Ia pun takmerasa risih mengenakan kerudung tatkala warga Aceh menyerukan setiap wanita muslimah mengenakan jilbab. "Orang Aceh itu baik, ramah-ramah dan menerima kami sebagai pendatang. Bapak bisa lihat bagaimana mereka memperlakukan kami seperti saudaranya sendiri. Mau pergi ini saja merekarela menyewa labi-labi (istilah angkutan kota di Aceh-Red)melepas kepergian kami sekeluarga," kata Tunia sambil menyekaair matanya.
Menurut Tunia, sejak menetap di Banda Aceh tahun 1988 bersamasuaminya, Drs Sanyoto, pegawai Badan Pertanahan Nasional BandaAceh, sesungguhnya ia merasa tak ada masalah. Tetapibelakangan, sejak terjadinya berbagai peristiwa antara GerakanAceh Merdeka (GAM) dengan TNI sampai munculnya tuntutan referendum 8 Agustus lalu, timbul rasa waswas akan keselamatan jiwa mereka. Apalagi, tanggal 4 Desember ada isu akan terjadiperang, jika referendum tak dikabulkan pemerintah. Guru bidang studi fisika ini mengaku, tak ada yang memaksanya pergi meninggalkan Aceh. "Keluarga saya meninggalkan Aceh iniatas inisiatif sendiri, karena melihat situasi yang takmenentu. Lebih baiklah kami pulang kampung sambil berlebaran berkumpul bersama keluarga di Kebumen," ungkap alumnus IKIPSemarang 1985 itu. "Jika kondisi keamanan di Aceh terjamin dan permasalahannya sudah selesai, insya Allah kami akan kembalilagi ke sini," kata ibu beranak dua itu. Hal senada dikemukakan Hanuri Efendi (43), Kepala SeksiPengeluaran dan Pendaftaran Tanah, Badan Pertanahan Nasional(BPN), Kotamadya Sabang. Ayah tiga anak itu meninggalkan Aceh karena pimpinannya (Kepala Kantor Wilayah BPN) telah memberiizin sementara untuk meninggalkan Aceh dengan pertimbangan keamanan. "Saya harus jujur mengakui, sesungguhnya rakyat Aceh itusangat menghormati pendatang. Sepanjang kita mau bergauldengan mereka, kita langsung dijadikan sebagai saudara.Sesungguhnya saya merasa tak pernah diganggu siapa pun selamabekerja di Sabang. Tetapi karena situasi keamanan tak adajaminan, 'kan tidak mungkin mempertahankan diri di sini.Daripada mati konyol, lebih baik saya pulang ke kampung," ujarayah tiga anak asal Taman Sari, Yogyakarta itu. Sementara Aida Simbolon (40) bersama tiga anaknya, yang sudah tinggal delapan tahun di Desa Lamnga, Aceh Besar, mengakui sangat terpukul harus meninggalkan daerah berpenduduk 4,5 juta jiwa ini. Aida yang mengaku akan kembali ke Medan, Sumatera Utara, sehari-hari petani kemiri. Ia tak mampu mengungkapkanisi hatinya ketika ditanya alasan kepergiannya, selainmen jawabnya dengan tangisan tersedu-sedu. Dari 4,5 juta jiwa penduduk Aceh, terdapat 186.640 jiwa(37.328 KK) yang warga transmigran di sembilan Dati II, selainKotamadya Banda Aceh dan Kabupaten Simelue. Sejak peristiwa
Operasi Jaring Merah (1989) sampai Daerah Operasi Militer(DOM) dan pasca-DOM, sebagian warga transmigran sudah kembali ke daerah asalnya masing-masing. Dalam bulan ini saja 21 KK(90 jiwa) warga transmigran asal Geumpang, Pidie, mengungsi ke kompleks transit transmigrasi Kanwil Departemen Transmigrasi.